Perusahaan Cangkang yang Terafiliasi Milik ACT Diduga Bergerak di Bidang Investasi hingga Logistik

Bareskrim Polri mengungkap Aksi Cepat Tanggap (ACT) memiliki 10 perusahaan cangkang yang diduga turut menerima aliran dana dari lembaga filantropi tersebut. Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) IV Dittipidesksus Bareskrim Kombes Andri Sudarmaji menyatakan bahwa perusahaan cangkang yang terafiliasi tersebut milik petinggi ACT yang diduga bergerak di bidang investasi hingga logistik. "Bervariasi ada perusahaan investasi, finance, perdagangan retail, bidang digital, periklanan, EO, pengadaan logistik, ada yayasan yayasan dan lain lain," kata Andri kepada wartawan, Rabu (27/7/2022).

Namun perusahaan cangkang itu masih didalami satu per satu oleh penyidik Polri. Adapun nantinya pengurus perusahaan tersebut bakal juga diperiksa terkait kasus ACT. Diberitakan sebelumnya, Bareskrim Polri mengungkap lembaga filantropi Aksi Cepat Tanggap (ACT) memiliki 10 perusahaan cangkang yang diduga turut menerima aliran donasi umat.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Whisnu Hermawan menyatakan kesepuluh perusahaan itu masih didalami oleh penyidik Polri. "Masih didalami satu persatu, mohon sabar," kata Whisnu kepada wartawan, Selasa (26/7/2022). Adapun nama nama ke 10 perusahaan cangkang tersebut adalah PT Sejahtera Mandiri Indotama, PT Global Wakaf Corpora, PT Insan Madani Investama,dan PT Global Itqon Semesta.

Selanjutnya, PT Global Wakaf Corpora, PT Trihamas Finance Syariah, PT Hidro Perdana Retalindo, PT Agro Wakaf Corpora, PT Trading Wakaf Corpora, PT Digital Wakaf Ventura, dan PT Media Filantropi Global. Sementara itu, Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Kombes Helfi Assegaf menyampaikan bahwa perusahaan cangkang itu sebagiannya merupakan kepentingan bisnis para pengurus ACT. "Ada 10 yang sudah ada. (Perusahaan) ada macam macam. Ada bisnis, ada juga untuk sosial," kata Helfi.

Ia menuturkan perusahaan perusahaan itu juga diduga turut menerima aliran donasi umat dari ACT. Contohnya, salah satu perusahaan pernah menerima pengadaan armada truk Rp 2 miliar. "(Dipakai) untuk operasional kepentingan afiliasi ACT. ACT kan ada membangun beberapa perusahaan afiliasinya, pengurusnya mereka juga. Kemudian uang dimasukkan ke afiliasinya, terus kembalikan ke individunya," pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.